Story 1 – Hujan yang mendebarkan

 

Pena Bulu

Original Story By : Muhammad Naufal

Story 1 – Hujan yang mendebarkan

Pukul 15.30, jam terakhir untuk hari ini. Kelas hari ini terasa tidak memiliki arti, yang berarti aku tidak mendapat pelajaran apapun. Pria tua berdiri di depan kelasku, bercerita tentang masa lalunya yang cukup menyedihkan, menurutnya. Menurutku, itu hanya cerita ampas yang dia karang sendiri. Mungkin sebagian yang keluar dari mulutnya adalah kenyataan, tetapi yang pasti sebagian besar lainnya adalah kebohongan yang ia buat untuk memotivasi seisi kelas, itu pendapatku. Aku duduk di bangku paling depan ujung paling kanan dekat jendela. Walaupun aku duduk di barisan paling depan, tapi posisiku bukanlah pusat perhatian karena terletak di paling ujung persis samping jendela. Sekilas, sering kali aku melihat pria tua yang sedang bercerita itu melirik ke arahku tetapi aku tidak mempedulikannya, kurasa ia juga begitu. Jreng . . . . jreng . . . . jreng . . . . . jreng, terdengar suara ring basket hingga 4 kali secara beruntun bola basket itu melewati ring. Melirik keluar jendela, benar tebakanku remaja pria seumuranku yang sering kulihat hampir setiap sore ia berlatih three point sendirian di lapangan basket yang terletak tepat di sebelah gedung tempatku biasa berkuliah.

“Baik anak-anak pertemuan kali ini dicukupkan, sampai jumpa minggu depan dan jangan lupa tugas dikerjakan.” Ucap pria tua yang sedari tadi mengoceh.

Dalam hatiku, “akhh!! Hari-hari tugas, mending kalo materi sudah dijelaskan… lah daritadi yang ku dengar hanya bualan seorang pria tua bau tanah.”

Tiba-tiba temanku yang duduk persis di sebelahku pun bangun dari tempat duduknya dan membisikkan sesuatu di telingaku.

“Apa kau membencinya?”, ucap temanku itu.

“Hah siapa yang kau maksud?, balasku dengan bingung.

“Pria tua.”, balasnya.

“Bagaimana kau tahu kalau aku tidak menyukainya?”, tanyaku dengan heran.

“Daritadi kau bergumam tentang pria tua, aku mendengarnya loh.”, jawab temanku dengan yakin.

“Eh… A…apa sekeras itu? Padahal rasanya aku hanya bergumam di dalam hatiku saja.”, jawabku meyakinkan.

“Yah tidak juga, tidak keras tapi cukup terdengar hingga sampai ke telingaku dengan jelas”, temanku membalas lagi.

“Ahh…lupakan saja aku tidak peduli.”, balasku dengan acuh.

“Yahh setidaknya kau masih punya rasa sopan santun mengikuti kelasnya walau kau bergumam di dalam hatimu dan hampir tidak memerhatikan beliau sih sepanjang kelas.”, balas temanku.

“Yah tidak akan kuulangi lagi, mungkin saja.”, jawabku ragu.

“Ya ini demi kebaikanmu juga sih. Sudah ya aku mau pulang dan masih ada rapat organisasi lagi.”, ucap temanku.

“Yaa . . . Urus saja organisasi mu itu!”, balasku.

Akupun mengiyakan dan temanku pun langsung pergi keluar kelas. Aku tidak mengikuti organisasi apapun di kampusku, karena menurutku itu melelahkan, membuang waktu dan menguras banyak tenaga. Dan kurasa pengalaman organisasi . . . . Hah! aku ngga butuh yang seperti itu. Organisasi menyita apa yang ku sebut dengan Me Time. Aku pernah ikut ekskul di SMA ku dulu, tapi itu bukan kenangan yang indah untuk diingat.

“Kurasa aku akan membatalkan rencanaku untuk ke perpustakaan hari ini. Sepertinya hari ini bakal turun hujan lagi”, aku berkata pada diriku sendiri.

Aku baru mau mengemas bukuku kembali ke tasku, hembusan angin masuk melewati jendela. Terasa dingin dan sunyi, gorden yang berayun dihembus oleh angin, suara jam dinding, dan daun-daun yang terbang tertiup angin mengisi kesunyian yang kurasakan. Awan hujan menutupi terangnya matahari, dan rintikan hujan pun mulai berjatuhan. Mungkin bagi sebagian orang hujan adalah berkah dan rezeki dari sang pencipta, membawa kebahagiaan dan kesejukan, tetapi bagiku itu seperti penjara yang mengurungku dalam kesepian. Tetapi aku tidak membencinya, mungkin karena dari dulu aku memang selalu sendiri.

Beep . . . beep . . . beep . . . Suara hp ku bergetar.

“Hmm . . . ada pesan?? Dari siapa? Coba kulihat.”

“Haahhh!! Seenaknya saja menyuruh ku! Merepotkan sekali sekarang aku harus membatalkan rencanaku untuk pulang secepatnya.”, kataku dengan kesal

Pria tua itu memang hobinya menyuruh seenaknya. Ya pesan itu dari pria tua itu, sekarang dia menyuruhku untuk membantunya merapikan berkas-berkas di ruang dosen.

Bersambung . . . .

 

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudku kenapa harus sepulang kelas dan disaat hujan situasi itu benar benar menyebalkan

      Hapus

Posting Komentar